NTT,ikagawanews.id – Kepolisian Daerah Nusa Tenggara Timur (Polda NTT) menggelar Rapat Kerja Teknis (Rakernis) Ditintelkam Polda NTT Tahun 2026, Selasa (11/8/2026). Kegiatan tersebut menjadi momentum strategis untuk memperkuat kemampuan fungsi Intelijen dan Keamanan (Intelkam) dalam menghadapi dinamika kamtibmas di tengah pesatnya perkembangan teknologi informasi dan transformasi digital.
Rakernis dihadiri Kapolda NTT Irjen Pol Dr. Rudi Darmoko, S.I.K., M.Si., para Pejabat Utama (PJU) Polda NTT, para Kasat Intelkam Polres jajaran, para narasumber, serta seluruh peserta Rakernis dan undangan.
Dalam sambutannya, Kapolda NTT Irjen Pol Dr. Rudi Darmoko menegaskan bahwa perkembangan teknologi informasi telah membawa perubahan besar terhadap dinamika kehidupan masyarakat sekaligus menghadirkan tantangan baru dalam menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat.
Menurut Kapolda, kondisi tersebut menuntut jajaran Intelkam untuk terus beradaptasi dan meningkatkan kemampuan dalam melakukan deteksi dini terhadap berbagai potensi gangguan keamanan.
“Era transformasi digital menuntut fungsi Intelkam untuk mampu melakukan deteksi dini secara lebih cepat, tepat, akurat, dan berbasis data, sehingga setiap potensi gangguan keamanan dapat diantisipasi sebelum berkembang menjadi ancaman nyata,” tegas Kapolda NTT.
Kapolda mengatakan, transformasi digital dalam fungsi Intelkam tidak boleh dimaknai sebatas penggunaan teknologi dan sistem digital. Lebih dari itu, teknologi harus mampu memperkuat kemampuan personel dalam membaca situasi, memahami karakter masyarakat, serta menghasilkan informasi intelijen yang akurat dan dapat menjadi dasar dalam pengambilan keputusan.
Terlebih, Provinsi Nusa Tenggara Timur memiliki karakteristik masyarakat yang sangat beragam, baik dari sisi budaya, adat istiadat maupun karakter sosial. Karena itu, pendekatan teknologi harus tetap berjalan beriringan dengan kearifan lokal dan pendekatan humanis.
“Keberhasilan transformasi digital tidak cukup hanya mengandalkan kecanggihan teknologi. Di Provinsi Nusa Tenggara Timur yang memiliki keberagaman budaya, adat istiadat, serta karakter sosial masyarakat yang kuat, pemeliharaan Kamtibmas harus tetap berpijak pada kearifan lokal, nilai-nilai budaya, dan pendekatan yang humanis,” ujar Irjen Pol Rudi Darmoko.
Ia menekankan, teknologi harus ditempatkan sebagai sarana untuk memperkuat kehadiran Polri di tengah masyarakat, bukan menggantikan hubungan sosial yang telah terbangun.
“Teknologi harus menjadi alat untuk memperkuat kehadiran Polri di tengah masyarakat, bukan menggantikan hubungan sosial yang telah terbangun,” lanjutnya.
Rakernis Ditintelkam Polda NTT Tahun 2026 mengusung tema “Transformasi Digital Intelkam Polda NTT dalam Mewujudkan Deteksi Dini yang Presisi, Pelayanan Intelijen yang Adaptif, dan Pemeliharaan Kamtibmas Berbasis Kearifan Lokal.”
Kapolda menyebut tema tersebut merupakan langkah strategis dalam membangun sistem intelijen keamanan yang modern dan responsif, namun tetap memiliki akar yang kuat pada nilai-nilai lokal masyarakat NTT.
Dalam Rakernis tersebut, peserta mendapatkan dua materi strategis yang saling melengkapi.
Materi pertama mengangkat tema “Optimalisasi Kearifan Lokal dan Pendekatan Sosiologis dalam Mendukung Transformasi Digital Intelkam Polda NTT Guna Mewujudkan Pemeliharaan Kamtibmas yang Adaptif.”
Materi ini menekankan pentingnya kemampuan personel Intelkam dalam memahami karakter sosial masyarakat sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari transformasi digital.
Kearifan lokal dipandang sebagai modal sosial yang penting dalam membangun kemitraan dengan masyarakat, meningkatkan kepercayaan publik, memperkuat deteksi dini, sekaligus menghasilkan kebijakan intelijen yang lebih tepat sasaran sesuai dengan kondisi masing-masing wilayah.
Dengan pendekatan tersebut, pemanfaatan teknologi diharapkan tidak membuat fungsi Intelkam semakin jauh dari masyarakat. Sebaliknya, teknologi harus mampu memperkuat konektivitas, kecepatan memperoleh informasi, serta ketepatan analisis terhadap berbagai perkembangan di lapangan.
Sementara itu, materi kedua mengangkat tema “Ketahanan Ekonomi sebagai Fondasi Kesejahteraan Masyarakat dan Stabilitas Kamtibmas: Suatu Tinjauan Ekonomi.”
Materi ini menyoroti eratnya hubungan antara kondisi ekonomi masyarakat dengan stabilitas keamanan. Ketahanan ekonomi masyarakat dinilai menjadi salah satu faktor penting dalam membangun lingkungan sosial yang aman dan kondusif.
Kapolda menjelaskan bahwa masyarakat dengan kondisi ekonomi yang baik cenderung memiliki ketahanan lebih kuat terhadap berbagai potensi persoalan sosial, termasuk konflik, kriminalitas maupun gangguan kamtibmas lainnya.
“Fungsi Intelkam harus mampu membaca indikator-indikator ekonomi sebagai bagian dari analisis intelijen untuk mendukung pengambilan kebijakan yang lebih komprehensif,” kata Kapolda.
Karena itu, kemampuan Intelkam tidak hanya diarahkan untuk membaca ancaman keamanan secara konvensional, tetapi juga mencermati berbagai indikator sosial, ekonomi dan perkembangan masyarakat yang berpotensi memberikan dampak terhadap stabilitas kamtibmas.
Melalui Rakernis ini, Kapolda NTT mendorong seluruh jajaran Intelkam untuk terus meningkatkan profesionalisme, kemampuan analisis serta pemanfaatan teknologi dalam pelaksanaan tugas.
Deteksi dini yang presisi, menurutnya, harus dibangun melalui perpaduan antara data, teknologi, kemampuan analisis, pengetahuan terhadap karakter masyarakat, serta komunikasi yang kuat dengan berbagai elemen masyarakat.
Pendekatan tersebut dinilai penting agar Polri mampu mengantisipasi berbagai potensi gangguan sebelum berkembang menjadi gangguan nyata yang dapat mengganggu keamanan dan ketertiban masyarakat.
Rakernis Ditintelkam Polda NTT Tahun 2026 pada akhirnya tidak hanya menjadi forum evaluasi dan peningkatan kemampuan teknis, tetapi juga menjadi ruang untuk menyatukan persepsi dan memperkuat komitmen jajaran Intelkam dalam menghadirkan pelayanan intelijen yang adaptif, responsif dan presisi.
Transformasi digital diharapkan mampu menjadikan Intelkam Polda NTT semakin cepat dalam memperoleh informasi, semakin tajam dalam melakukan analisis, serta semakin dekat dengan masyarakat, dengan tetap menjadikan kearifan lokal sebagai fondasi dalam menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat di Nusa Tenggara Timur.(Red/Hum)
